jadilah wanita yang sederhana namun berkelas...

jadilah wanita yang sederhana namun berkelas...

Kamis, 29 Maret 2012

PERILAKU ANTAR KELOMPOK DAN MANAJEMEN KONFLIK


PERILAKU ANTAR KELOMPOK DAN MANAJEMEN KONFLIK
Ada beberapa hal yang melatar belakangi kenapa timbul konflik di kampus. Pertama, persaingan kepentingan elit. Hal ini terjadi karena ada persinggungan kepentingan di tingkatan elit politik atau pemegang kekuasaan. Apalagi jika, anggaplah seorang rektor universitas menjadi calon dalam sebuah jabatan publik yang lebih luas. Kerap muncul gerakan dari lawan politiknya untuk membuat konflik di kampus. Asumsinya sederhananya, bagaimana bisa seorang rektor misalkan, mengelola publik yang lebih luas sedangkan ‘rumahnya’ sendiri tidak bisa dikendalikan.
Fenomena ini jika kita lihat dalam konteks politik memang wajar terjadi. Karena ketika seorang tokoh merambah pada politik praktis maka selalu akan berhadapan dengan aneka ragam kepentingan. Bisa saja lawan politiknya akan terganggu interest-nya atau kebobrokannya akan terungkap ketika ada reformis baru yang akan memerintah. Olehnya itu, dengan mengikut pada teori Machiavelli, maka dihalalkanlah segala cara untuk menghantam lawan politiknya.
Jika kita lihat kasus kepentingan elit ini, kurang masuk akal bilamana konflik itu dilakukan oleh orang dalam kampus. Artinya tidak mungkin orang kampus sendiri yang notabene ia dibesarkan di situ menghancurkan almamaternya. Adapun konflik yang terjadi karena persaingan di tingkatan internal kampus biasanya tidak akan mengakibatkan kerusuhan dalam skala massif. Paling hanya terjadi ‘ketegangan’ biasa yang cepat diredam. Ujung-ujungnya memang ketika konflik elit ini terjadi, maka civitas akademikalah, yang dalam hal ini merasakan dampak langsung adalah mahasiswa yang terlibat di lapangan.Memang aneh ketika ada orang tertentu (oknum) yang ingin menghancurkan kultur kampus yang ilmiah. Tentunya kelakuan itu sudah diluar daya nalarnya. Kalaupun ada tipe orang yang melakukan ini, maka teramat kejamlah orang tersebut. Semoga tidak ada!
Kedua, konflik antar mahasiswa. Konflik bisa saja terjadi dalam dua hal, dalam tingkatan kognitif dan dalam skala massif. Konflik dalam bentuk kognitif biasanya hanya berada pada wilayah pemikiran. Sebagai contoh perebutan tahta lembaga mahasiswa. Jika konflik ini masih save, maka tingkatan konfliknya hanya berada pada ‘ketegangan urat syaraf’ antara golongan mahasiswa. Dalam kultur lembaga hal ini wajar terjadi. Karena masing-masing pihak ingin menjadi penguasa di lembaga tertentu. Tapi sekali lagi, jika masing-masing pihak masih mengedepankan rasionalitas, maka tak akan terjadi konflik terbuka dalam bentuk tawuran massal.
Konflik dalam skala massif atau tawuran biasanya terjadi karena masalah sepele. Biasanya, karena masalah ketersinggungan antar mahasiswa. Bisa disebabkan karena ‘dipajaki’ oleh oknum mahasiswa tertentu. Dan ketika sang korban melaporkan kejadian itu pada kawannya atau seniornya, maka secara otomatis ‘nafsu purbanya’ untuk konflik sudah mulai tersulut. Apalagi jika dalam ‘ingatan kolektif’ mahasiswa tertentu, pernah terjadi konflik sebelumnya. Maka akan terjadilah konflik dari satu orang menjalar pada solidaritas kelompok. Terbakarlah amarah dalam dada!
Jika dilihat secara lebih jelas, ternyata konflik yang terjadi bukanlah karena mahasiswa yang suka konflik. Karena tujuan mahasiswa ke kampus sejatinya adalah untuk menimba ilmu, memperluas cakrawala pemikiran, dan untuk berbakti pada kedua orang tuanya. Konflik yang terjadi secara massif itu sebenarnya hanyalah ungkapan ‘solidaritas sosial’ antar mahasiswa. Karena toh biasa setelah konflik di kampus, mereka akan bertemu kembali di pondokannya masing-masing. Konflik itu hanyalah berada pada wilayah terbatas saja. Kalaupun ada yang melanjutkan konflik tersebut sampai di pondokannya, itu hanya mahasiswa tertentu.
Asumsi yang harusnya kita pakai sekarang dalam melihat konflik ini adalah semua manusia itu sejatinya adalah baik. Karena lingkungan atau situasi yang mencekam, maka otomatis sebagai senasib sepenanggungan, maka mahasiswa akan membantu temannya. Jika memang konflik ini hanya ungkapan solidaritas, kenapa setiap tahun kerap kali muncul tawuran? Hal ini tidak hanya terjadi di daerah, akan tetapi juga melanda kota metropolitan seperti Jakarta.
Mungkin tawuran yang selalu menjelma itu adalah semacam ‘dosa turunan’ , ‘dosa purba’ atau bahasa lainnya ‘dosa kultural’ yang telah mendarahdaging pada pendahulu mahasiswa. Maksudnya, mungkin saja ini terjadi karena sudah membudaya. Harus kita bedakan antara menggejala dan membudaya. Jika menggejala sifatnya masih hal biasa, akan tetapi ketika sudah membudaya maka inilah semacam ‘ritual tahunan’ yang kerap digemari mahasiswa.
Kebiasaan ini tidak bisa lihat secara independen. Selalu ada keterkaitan antara satu unsur dan unsur lainnya. Artinya, tawuran yang terjadi sesungguhnya adalah cerminan dari gejolak bangsa kita yang masih suka melakukan pemberontakan secara massif. Hal ini bisa juga terjadi karena tayangan media massa yang cenderung mengangkat begitu banyak kekerasan, walau sebenarnya itu baik sebagai pembelajaran sosial. Akan tetapi, inilah akumulasi dari begitu banyak masalah bangsa yang tidak terselesaikan sampai hari ini.
Bagaimana cara menyelesaikan konflik? Setidaknya cara untuk menghilangkan ‘kreatifitas’ itu perlu dengan gerakan penyadaran. Penyadaran yang dimaksud disini bisa dilakukan pada tingkatan lembaga kemahasiswaan. Selayaknya, para aktivis lembaga memberikan penyadaran antar sesama mahasiswa. Hal ini tepat jika dilaksanakan dalam wahana pengkaderan seperti Ospek.
Sebagaimana yang umum ada di tiap lembaga, biasanya tiap fakultas ada bidang pengkaderan serta kerohanian. Keduanya harus berperan secara sinergis. Bagaimana memadukan intelligence quotient (kecerdasan inteligensi) mahasiswa dengan spiritual quotient (kecerdasan spiritual). Agar nantinya terjadi balancing (keseimbangan) sikap antara ketinggian ilmu dan kedalaman ketaatan pada Tuhan yang dimanifestasikan dalam relasi sosial.
Penyadaran ini idealnya tidak hanya pada mahasiswa, akan tetapi para dosen juga perlu diikutkan. Artinya, perlu ada kesadaran dan sekaligus mutual understanding (saling pengertian) sebagai warga kampus untuk saling bekerjasama memajukan ilmu dan moralitas, serta menjaga fasilitas kampus.
Sesungguhnya masalah kampus adalah masalah kita bersama. Sejarah telah mencatat bagaimana perjuangan mahasiswa dan pemuda dalam menyatukan segenap komponen bangsa dalam Sumpah Pemuda (1928), menggusur Orde Lama, hingga mengusung bendera reformasi dengan melengserkan Soeharto pada 1998. Alangkah banyak tinta sejarah yang ditorehkan gerakan mahasiswa dari dulu hingga kini. Jangan sampai segala goresan tinta emas yang telah terpahat dalam dinding sejarah menjadi pudar dan terkikis secara perlahan.
Olehnya itu, kita semua perlu berupaya keras menjadi yang terbaik untuk generasi sesudah kita, agar muncul bibit pemimpin masa depan yang cerdas dari rahim bumi pertiwi. Tak ada salahnya sekarang kita ikuti Bung Karno semasa mahasiswa di THS Bandung (kini ITB) yang menulis pada dinding kamarnya sebuah kata: Masa depan bangsa ditentukan dari kamar ini!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar